Waspada Alergi Pada Anak - Anak Karena Makanan Mengandung Gluten
Anak – anak pada umunya masih memilki kekbalan tubuh yang belum stabil. Maka dari itu sangat memungkinkan usia tersebut memili potensi lebih besar untuk terserang penyakit. Salah satu yang bisa dikatakan serius adalah alergi makanan. Sistem pencernaan yang belum sekeba orang dewasa akan bisa menyebakan gangguan serius jika kemasukan makanan yang ternyata adalah jenis yang menyebabkan alergi. Salah satu yang paling sering terjadi adalah alergi karena gluten.
![]() |
| alergi pada anak via : http://3.bp.blogspot.com |
Apa
itu gluten?
Gluten adalah protein lengket dan
elastis yang terkandung di dalam beberapa jenis serealia, terutama gandum,
jewawut (barley), rye, dan sedikit dalam oats. Jadi, gluten ada dalam roti,
biskuit, pasta, sereal sarapan (breakfast cereal), mi, dan semua jenis makanan
yang terbuat dari tepung terigu. Beras dan jagung tidak mengandung gluten.
Dalam proses pembuatan roti, gluten bermanfaat untuk mengikat dan membuat
adonan menjadi elastis sehingga mudah dibentuk.
![]() |
| gluten dalam gandum via : http://yourpathpersonaltraining.com |
Popularitas buruk diraih gluten
karena ada kasus-kasus konsumsi gluten yang menimbulkan reaksi sensitivitas
ketika dikonsumsi seperti alergi pada beberapa orang. Hal ini membuat banyak
orang salah kaprah dan berpikir bahwa gluten harus dijauhi oleh semua orang.
Sampai-sampai banyak produk makanan di pasaran mengusung klaim bebas gluten.
Bahkan beberapa restoran di negara maju seperti Amerika menyediakan makanan bebas
gluten di daftar menunya.
![]() |
| gluten via : https://familyhealthsos.files.wordpress.com |
Contoh Kasus Akibat Gluten
Senyawa gluten yang terdapat dalam produk gandum sering
dianggap sebagai penyebab
utama timbulnya alergi. Pengalam dari ibu Silvi yang mengaku kaget saat Vely
(5 tahun), putri kecilnya mengeluh gatal-gatal di sekitar tangan dan kakinya.
Usut punya usut, ternyata gatal-gatal ini muncul setelah Vely menyantap roti
gandum yang dibeli ayahnya. Dokter menyarankan agar Vely tidak lagi menyantap
roti karena gadis kecil itu ternyata alergi terhadap gluten.
Berbeda dengan pengalaman Dina mengaku yang
sempat frustasi, gara-gara Ferry, anak laki-lakinya yang berusia 7 tahun, tidak
bisa gemuk dan sulit makan sejak usia 1 tahun. Setelah berkonsultasi dengan
beberapa dokter, Ferry dinyatakan positif menderita penyakit seliak dan harus
menghindari konsumsi makanan yang mengandung gluten. Itu artinya ia juga harus mengindari beberapa turunan
dari makanan berbahan terigu lainnya.
Kedua kasus tersebut terjadi
akibat konsumsi makanan yang mengandung gluten. Benarkah gluten berbahaya untuk
dikonsumsi?
Alergi
vs Intoleransi
Konsumsi gluten memang menimbulkan
efek buruk pada beberapa orang yang sensitif terhadap gluten. Reaksi
sensitivitas yang ditimbulkan oleh konsumsi gluten bisa dibedakan menjadi tiga,
yaitu alergi gluten, intoleransi gluten (penyakit seliak atau coeliac disease),
dan non-coeliac gluten intolerance.
Alergi
gluten
Dr Harris Steinman dari Allergy
Society of South Africa’s Working Group on Childhood Asthma, Afrika Selatan,
mengatakan bahwa alergi gluten atau disebut juga alergi gandum (wheat allergy)
merupakan kondisi yang langka tapi bisa terjadi pada siapa pun.
Adanya kandungan protein gandum -
termasuk gluten - dalam jumlah sedikit saja di dalam makanan, secara langsung
akan menyebabkan timbulnya gangguan pada mereka yang sensitif, seperti
gatal-gatal pada kulit dan eksim, gangguan pencernaan (kram perut, mual dan
muntah), serta gangguan pernapasan. Reaksi alergi juga bisa berupa serangan
asma (baker’s asthma) akibat menghirup tepung yang mengandung gluten seperti
tepung terigu.
Reaksi alergi terhadap gluten
biasanya muncul dalam hitungan menit sampai beberapa jam setelah mengkonsumsi
atau menghirup produk gandum. Reaksi alergi ini melibatkan antibodi IgE yang
terdapat di dalam darah. Normalnya, sistem kekebalan tubuh yang terdiri dari
sel darah putih dan antibodi akan menyerang setiap zat asing yang memasuki tubuh
yang dianggap berbahaya.
Dalam kasus alergi gluten,
antibodi IgE bereaksi terhadap protein gluten yang dianggap sebagai alergen
(bahan penyebab alergi). Inilah yang menimbulkan reaksi alergi. Satu-satunya
cara mengatasi alergi gluten adalah dengan menjauhi semua makanan yang
mengandung gluten, terutama gandum.
Intoleransi gluten
Intoleransi gluten berbeda dengan
alergi gluten. Menurut Dr Widodo Judarwanto SpA, dari Children Allergy Center
Rumah Sakit Bunda Jakarta, intoleransi gluten atau sering disebut penyakit
seliak (coeliac disease) adalah penyakit keturunan yang bersifat permanen,
dimana konsumsi gluten akan menyebabkan kerusakan usus halus sehingga terjadi
gangguan penyerapan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh. Prevalensi penderita penyakit
seliak di Indonesia sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Tapi diduga
angkanya terus meningkat.
![]() |
| Intolerant gluten via : http://www.glutenfreeclub.com |
Masuknya gluten ke dalam saluran
pencernaan akan menyebabkan reaksi autoimun (menyerang sistem kekebalan
sendiri) yang merusak lapisan pelindung dinding usus. Kerusakan ini menyebabkan
lapisan usus yang berjonjot-jonjot menjadi rata sehingga kurang mampu menyerap
nutrisi makanan, yang akhirnya berakibat pada malnutrisi. Jika alergi gluten
disebabkan oleh reaksi antibodi IgE, penyakit seliak disebabkan oleh reaksi
antibodi IgA dan IgG..
Biasanya gejala penyakit seliak
pada anak mulai tampak setelah anak diberi makanan tambahan yaitu sekitar usia
4-6 bulan. Bila makanan tersebut mengandung gluten, maka akan timbul keluhan
berupa sulit buang air besar, diare, kembung, dan sering rewel. Beberapa anak
mengalami kesulitan makan, kurang gizi, kegagalan pertumbuhan, berat badan
sulit naik, nyeri perut, sering buang angin, adanya luka seperti sariawan di sekitar
mulut, dan gigi keropos.
Kondisi ini juga ditandai dengan
dermatitis herpetiformis (DH) yang memiliki gejala berupa munculnya
bintil-bintil kemerahan yang agak nyeri dan gatal di kulit, terutama di daerah siku,
lutut, dada, dan pantat.
Untuk mendiagnosa penyakit seliak,
dokter akan melakukan beberapa tes, seperti tes darah dan biopsi usus halus
untuk menentukan apakah benar pasienpositif menderita intoleransi gluten. Jika
hasilnya positif , pasien harus melakukan diet bebas gluten (gluten-free),
dengan hanya mengkonsumsi jenis makanan yang tidak mengandung gluten sama
sekali.
Non-coeliac
gluten intolerance
Orang yang mengalami gejala
sensitivitas gluten - tapi tes penyakit seliak menunjukkan hasil negatif -
dikategorikan sebagai penderita non-coeliac gluten intolerance (NCGI).
Mekanismenya masih belum jelas, tetapi diperkirakan kondisi ini juga disebabkan
oleh reaksi antibodi IgA dan IgG terhadap gluten.
![]() |
| gluten free via : http://www.independent.ie |
Akibat yang ditimbulkan NCGI tidak
separah alergi yang disebabkan oleh antibodi IgE yang langsung muncul sesaat
setelah konsumsi gluten. Gejalanya berupa migren, merasa lemas, gangguan kulit,
gangguan pencernaan seperti kembung, sembelit, dan radang usus, serta mudah
marah.
Tidak seperti alergi gluten dan
penyakit seliak yang harus menghindari gluten seumur hidup, kondisi ini
sifatnya hanya sementara dan biasanya bisa diatasi dengan mengurangi atau
menjauhi konsumsi gluten selama beberapa waktu.
Gluten
& Autis
Penderita autis juga disarankan
untuk menjauhi konsumsi gluten. Dr Natasha Campbel McBride, ahli gizi sekaligus
ahli saraf Amerika dalam bukunya Gut and Psychology Syndrome menyatakan bahwa
makanan yang mengandung gluten dan kasein - protein yang terkandung dalam susu
- dicurigai dapat mempengaruhi kesehatan usus pada penderita autis.
![]() |
| autis via : http://cirianakautis.com |
Bagi penderita autis, gluten dan
kasein dianggap sebagai racun karena tubuh penderita autis tidak menghasilkan
enzim untuk mencerna kedua jenis protein ini. Akibatnya, protein yang tidak
tercerna ini akan diubah menjadi komponen kimia yang disebut opioid atau
opiate. Opioid bersifat layaknya obat-obatan seperti opium, morfin, dan heroin
yang bekerja sebagai toksin (racun) yang dapat mengganggu fungsi otak dan
sistem imunitas, serta menimbulkan gangguan perilaku.
The Autistic Network For Dietary
Intervention, Amerika, menyarankan agar penderita gangguan perilaku yang
terkait dengan gangguan pencernaan seperti autis untuk menjalani diet bebas
gluten dan kasein atau diet GFCF (gluten free/casein free) selama minimal 6
bulan.
Diet
bebas gluten
Jika anak, keluarga, atau Anda
sendiri menderita salah satu gejala sensitivitas setelah mengkonsumsi gluten,
sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Dokter akan melakukan beberapa
tes, seperti tes darah dan biopsi usus halus untuk mendiagnosa apakah benar
Andapositif menderita sensitivitas terhadap gluten. Jika hasil tes positif, selanjutnya
dilakukan diet bebas gluten di bawah pengawasan dokter dan ahli gizi.
![]() |
| diet gluten via : http://naturalsociety.com |
Diet bebas gluten harus dijalani
dengan disiplin. Semua makanan yang dikonsumsi harus bebas dari gluten. Jadi,
segala jenis makanan yang terbuat dari gandum dan tepung terigu harus dicoret
dari daftar belanja. Saat memilih makanan, pastikan untuk membaca label
makanan. Cek apakah benar produk makanan tersebut sama sekali tidak mengandung
gluten.
Untuk membuat kue dan cake, Anda
bisa mengganti tepung terigu dengan tepung bebas gluten (gluten-free), seperti
tepung beras, tepung kedelai, tepung maizena (pati jagung), tepung tapioka,
tepung sagu, dan tepung garut (arrowroot flour). Saat ini juga sudah dijual
tepung campuran bebas gluten atau gluten free flour mix (GF flour mix). GF flour
mix merupakan produk campuran tepung yang telah dimodifikasi sehingga dapat
menghasilkan biskuit yang enak dengan rasa yang tidak kalah dengan tepung
bergluten. Campu
Tidak
semua orang perlu menjauhinya
Dengan sejumlah masalah yang
ditimbulkan gluten, apakah gluten perlu dihindari oleh semua orang? Jawabannya:
tidak. Orang normal yang tidak menderita alergi gluten, penyakit seliak,
ataupun autis tidak perlu menjauhi gluten. Bagaimanapun gluten merupakan jenis
protein yang juga dibutuhkan oleh tubuh. Serealia yang mengandung gluten juga
kaya akan enzim, vitamin, mineral, dan antioksidan yang notabene sangat
dibutuhkan tubuh. Maka tak ada alasan untuk menjauhi roti gandum utuh dan
oatmeal bila Anda bukan penderita penyakit yang sensitif terhadap gluten.
![]() |
| gluten free via : http://www.medicalnewstoday.com |
Pelaksanaan diet bebas gluten yang
tidak tepat justru dapat menyebabkan defisiensi mikronutrisi seperti vitamin
B1, B2, B3, asam folat, mineral besi, kalsium, selenium, magnesium, dan fosfor.
Karena itu Dr Widodo, menyarankan agar selama menjalani perawatan dan diet
bebas gluten, pasien juga menjalani terapi suportif seperti pemberian suplemen
kalsium, besi, vitamin B, dan diet tinggi protein untuk mencegah defisiensi
nutrisi.
Dari rangkaian
penjelasan tersebut Central Beauty menegaskan bahwa gluten pada dasarnya tidak berbahaya dengan catatan
kita bisa memastikan kita tidak termasuk kedalam orang yang alergi terhadap hal
tersebut sehingga kita bisa menikmati roti, mie dan berbagai makanan turunan
gandum yang sangat beragam. Semoga bermanfaat. SS
Sumber: Majalah Nirmala, November 2008 dan
http://bayivegetarian.com)
.jpg)







0 Response to "Waspada Alergi Pada Anak - Anak Karena Makanan Mengandung Gluten"
Post a Comment