Apakah Anda Tau Mengapa Anda Boros? Cari Tau Solusinya
Apakah boros menjadi masalah untuk keseharian anda selama ini? Namun boros itu seberanya bukan hanya soal uang karena istilah boros sendiri pada dasarnya selalu identik dengan kegiatan yang berlebihan. Atau jika disitlahkan dengan bahasa yang lebih ilmiah boros bisa berarti tidak efektif dan efisien. Namun kata boros selalu identik dengan uang dan pembelian pada umumnya. Membeli melebihi list yang sudah dibuat, membeli barang bukan karena butuh namun karena ingin atau penasaran atau membeli barang yang sebenarnya memilki fungsi yang sama namun berbeda merek atau warna itu adalah kasus boros yang sering kita jumpai. Khusus wanita, ketiga hal tadi pasti tidak asing bagi anda bukan?
Secara teori boros adalah ujung dari suatu tindakan pembelian dengan jumlah atau jenis barang tidak sesuai atau melebihi kewajaran dan bisa juga karena melampaui batas yang ditentukan. Namun tahuakah anda jika boros itu sebuah perilaku atau kebiasaan? Artinya jika melihat dari sisi psikologi, terjadinya perilaku atau kebiasaan biasanya bermula dari tindakan. Entah tindakan itu disengaja atau tidak, yang jelas bisa dikatakan adanya boros bermula dari tindakan pembelian. Sedang pembelian terjadi karena anda melakukan keputusan pembelian. Sederhananya, jika anda bisa mengetahui dan mengendalikan keputusan pembelian, sangat besar peluang untuk terhindar dari kata boros.
Keputusan Pembelian Konsumen merupakan sebuah tindakan yang dilakukan konsumen untuk membeli suatu produk baik disenaja maupun spontan. Setiap produsen pasti menjalankan berbagai strategi agar konsumen memutuskan untuk memberli produknya. Menurut Kotler (2002), keputusan pembelian adalah tindakan dari konsumen untuk mau membeli atau tidak terhadap produk. Dari berbagai faktor yang mempengaruhi konsumen dalam melakukan pembelian suatu produk atau jasa, biasanya konsumen selalu mempertimbangkan kualitas, harga dan produk sudah yang sudah dikenal oleh masyarakat.
Entah itu teori diketahui atau tidak oleh seseorang, mau tidak mau kita harus akui bahwa kegiatan membeli yang boros kita itu berasal dari rangsangan, bukan pikiran rasional. Artinya, proses memtuskan berdasar rangsangan itu lebih bersifat kurang rasional. Oleh sebab itu perlu diketahui, bagaimana proses pembelian itu bisa terjadi? Jika melihat dari sudut pandang pemasaran, proses terjadinya keputusan pembelian adalah sebegai berikut:
- Pengenalan Masalah
Sangat bijak jika anda mempunyai daftar list belanja atau skala prioritas pemebelian. Ingat dalam teori marketing ada istilah need (kebutuhan) and want (keinginan). Ini adalah langkah baku dalam keputusan pembelian. Saat otak kita distimulus oleh berbagai iklan maupun promosi usahakan kita tetap tau prioritas kita adalah produk dengan katagori kebutuhan.
- Pencarian Informasi
Media sosial dan akses informasi saat ini sangat mudah didapatkan. Artinya buka berkara yang susah jika dalam menentukan keputusan pembelian kita harus minimal mencari pembanding. Tidak melulu mengenai harga, pembading juga bisa mengacu pada kualitas, nama kadaluarsa, garansi atau atribut utama lain yang melekat pada produk tersebut.
- Evaluasi Alternatif
Hampir semua produk saat ini memiliki subtitusinya. Paling sederhana, banyak orang memilih membeli tablet yang lebih portable ketimbang leptop karena pada dasarnya fungsi dasarnya hampir sama. Contoh tersebut bisa dimplementasikan ke berbagai produk yang jelas namanya produk subtitusi harus mempunyai fungsi dasar yang sama dan memberikan kelebihan lain baik dari sisi feature, harga maupun kegunaan.
- Keputusan Pembelian
Jika ketiga langkah sebelumnya sudah dilakukan dengan baik, besar kemungkinan keputusan pembelian kita adalah benar. Namun apakah selalu jika tiga langkah di atas sudah kita lakukan memberikan jaminan kita bisa mengimplementasikannya? Jika yang dibeli adalah barang permanen atau mahal (mobil, rumah atau perhiasan) itu sangat mungkin. Namun untuk kebutuhan yang sifatnya sehari atau harga tidak terlalu tinggi (makanan, hp atau baju) ketiga langkah tadi sangat bisa buyar ketika kita “kalah” dengan salesman atau aktifitas pemasaran. Bahkan sesuatu yang tidak kita pertimbangkan sama sekali akan berujung pada keputusan pembelian jika sales mampu menggerakkan need and want kita.
- Perilaku Paska Pembelian
Tujuan adanya pembelian adalah memebuhi kebutuhan atau keinginan. Sangat wajar jika setiap pembeli mengingikan kepuasan dalam setiap transaksi yang mereka lakukan. Hal itu adalah bahan evalusi apakah pembelian tersebut tepat atau tidak. Tidak selalu pembelian yang tidak memuaskan itu karena pelayanan buruk, kualitas barang kurang atau harga yang terlalu tinggi. Pembelian tidak memuaskan juga menyangkut apakah barang atau jasa yang kita beli itu sudah sesuai dengan kebutuhan kita? Atau hanya hegemoni atau sekedar gengsi?
| boros : via media.viva.co.id |
Tahap satu sampai dengan lima adalah konsep keputusan pembelian dari kaca mata pemasaran. Artinya sebagian besar aktifitas pemasaran bertujuan untuk menggerakkan kita pada salah satu tahap atau bisa semua tahap disentuh oleh para marketer. Namun kegiatan tersebut tetap tidak bisa menjamin seseorang akan memutuskan pembelian terhadap produk yang dipasarkan jika individu atau instansi yang menjadi target memiliki pemahaman baik tentang keputusan pembelian. Sekali lagi, boros itu adalah ujung atau akumulasi kegiatan jadi untuk merubahnya harus dimulai dari satu tindakan awal yaitu melakukan keputusan pembelian yang tepat. SS
0 Response to "Apakah Anda Tau Mengapa Anda Boros? Cari Tau Solusinya"
Post a Comment